maaf

17 04 2008

sahabat,
maaf.

jabat tanganku
ternyata meremas hatimu.

Iklan




lihatlah bintang, kawan

5 01 2008

Kaca-kaca di matamu
tampak seperti akan segera pecah,
didorong dorong dan dibentur bentur
oleh kesedihan yang tak lagi mampu tertampung di hati.

Kataku :
lihatlah bintang, kawan.
Karna gugusan sinarnya,
niscaya, hanya airmata gembira yang akan terurai di wajahmu.





jalur lain

29 11 2007

kuputuskan,
untuk mengambil jalur lain.

mungkin kau akan sedih,
namun bukan itu jalanku.

[jika aku masih punya]
hatiku tidak ingin menuju kesana,
karena itu
lebih baik ku berpindah arah saja
dan menapak di jalur lain.





unspoken language

19 11 2007

ada makna-makna yang kupahami,
ketika kulihat matamu di senja itu :

ketika kau bangun dari dudukmu,
membuka senyum,
berkata salam padaku
dan menanyakan kabarku.

Kumaknai begini :

seperti ada yang ingin kau sampaikan.
namun entah,
dinding apa yang menghalanginya.

sepertinya ada kalimat yang hendak kau katakan padaku,
tapi terhambat
dan tertahan dalam hatimu saja.





sudahkah?

8 10 2007

senyuman,
yang seperti kembang merekah di pagi hari dan berlapis embun,
sudahkah kutemukan?

sorot mata,
yang bagai sinaran matahari terbit menghangatkan seisi kamar,
sudahkah kutemukan?





semoga tidak

8 10 2007

jelaskan padaku,
bahwa kata-kata itu tak sungguh-sungguh.

ceritakan dengan jelas,
jika kata-kata itu tak seperti yang terucap.





mengurungkan niat

8 10 2007

terbenamnya matahari sore ini,
diikuti tenggelamnya asa akan dirimu.

beberapa kata darimu,
digabung dengan tatapan sayumu,
sudah cukup membuat patahan bagiku.

tangan ini,
yang tadinya telah bersiap,
jadi mengurungkan niat untuk menyapamu.

dan akupun tersungkur di bawah kata-katamu