airmata doa

8 06 2008

ketika hati
terlalu sedih untuk berbicara,
dan
kata-kata tidak keluar sedikitpun,
airmatalah yang lalu berperan menjadi doa.





penciptaan belum selesai

1 01 2008

Tidakkah kalian melihat,
jalan penciptaan belumlah selesai dibangun dan bahkan terus berlangsung.

Tak perlulah mengikuti rasa takut karena imbas prosesnya.





aku pergi meninggalkanmu

9 04 2007

kukenang jawaban darimu :
hanya itu yang bisa kuberikan.

sepanjang aku bisa mengingat,
tak pernah ada kesempatan,
dimana
tanganmu membelai mesra kulit di kepalaku;
menyusuri sela sela rambut,
menyingkirkan air mata sebelum sampai pipi.

sejauh ingatanku bisa kuhadirkan,
belum pernah ada situasi,
dimana
nada suaramu menciptakan lagu yang indah:
menceritakan dongeng kebajikan,
memberikan kata bermuatan kasih.

yang terjadi justru,
satu tanganmu mendarat telak di pipi,
sedang yang satu lagi,
erat cengkeram rambutku
–beberapa tanggal hingga akarnya,
dan airmata tak ada habisnya berhenti.
suaramu menggelegar tanpa perlu pengeras,
menyampaikan umpatan;
sebuah kalimat pemaksaan dan kebencian.

jadi jangan salahkan aku,
jika aku sekarang pergi.

dahulu kulontarkan tanya padamu :
apakah tak ada selain nafkah,
yang bisa kau beri padaku?
–dalam hati,
kuberharap ada cinta bisa kau berikan.

jawabmu :
ya, hanya itu.

jadi wajar,
jika kini, saat ku telah dewasa,
saat nafkah telah datang sendiri,
aku pergi meninggalkanmu,
dan mencari yang bisa mencintaiku…

© 2007 oleh FA Triatmoko HS





satuan ujar seorang mantan romo

15 03 2007

kata ini kudengarkan padamu :
‘aku rasa jalan ini bukan yang seharusnya kulintasi’.

sedari dulu,
keraguan tak pernah berhenti menggangguku.
mulai dari
hanya muncul, sambil sembunyikan separuh lebih badannya,
lalu tampak, namun belum mengusik,
hingga mulai terbukanya sebuah interaksi.

sudah sebelas tahun lebih ia ada, mengintai.
selama itu juga,
ia membangun kekuatan untuk menyembul keluar dari ketidaksadaranku.
selama sebelas tahun,
kusimpan sedikit kekuatanku menjaganya tetap tak terperhatikan;
bayangkan aku mencoba menutup pintu bagi sebuah keraguan.

namun,
benturan benturan hidup yang kualami,
menghabiskan tenagaku,
mau tak mau bukakan pintu baginya :
kini aku mulai merasa amat ragu,
ragu dengan pilihanku.

tak ada yang tahu keraguan ini,
dan memang aku tak ingin itu ada.
ku sangatlah ragu ;
bukan karena aku malas jalani pilihan,
bukan karena ku jatuh dalam percintaan manusia,
bukan..
aku hanya merasa
jalan ini bukan yang seharusnya kulintasi..
tempatku ada di ruang waktu lainnya, aku yakin itu.
dan rasanya,
kalian tak perlu penjelasan yang lebih jelas lagi dariku.





apakah kamu?

17 12 2006

apakah kamu?
cahaya matahari
yang akan memberi kehangatan
pada jiwa yang terbungkus dalam dingin?
apakah kamu?
tetes air
yang akan memberi kesegaran
pada jiwa yang tertahan dalam kejenuhan?
apakah kamu?
udara pagi
yang akan membagikan kekuatan
pada jiwa yang terjatuh dalam keletihan?
apakah kamu?
hijau dedaunan
yang akan membagikan kedamaian
pada jiwa yang tenggelam dalam pertentangan?

apakah kamu?





aku tak membawa perubahan

11 12 2006

kau tak bisa
mengharapkanku membawa perubahan bagimu,
karena hal itu tak mungkin.
perubahan harus terjadi darimu sendiri.
engkaulah yang mengubah,
engkau yang berkuasa mengubah dirimu,
dan aku tidak.
perubahan asalnya dari dalam,
tak ada tenaga luar yang mampu mengubahmu.
aku hanya akan jadi sebuah pemicu;
pemicu dari munculnya perubahan,
dan kau-yang-terpicu
haruslah yang bergerak mengubah..
aku hanya akan menjadi jembatan;
jembatan menuju perubahan,
dan kau-yang-terjembatani
haruslah yang berjalan menyeberangi..
jadi kuminta–demi dirimu sendiri,
jangan harapkan aku bisa membawa perubahan bagimu..





hentikan semua

27 11 2006

jika kau bisa
mendengar kataku ini :
tolong hentikan
perlakuanmu padaku!
hatiku kini
seringkali bertanya-tanya :
apa salahku,
hingga kau lakukan semua?

aku tak mampu
tuk menerimanya lagi..
aku hanya ingin dicintai olehmu…

hentikan semua!
tolong,
dengarkan aku..
hentikan semua!
tolong,
kau dengarkanlah :
hentikan semua…


*salah satu lagu yang berhasil gue produksi.
terinspirasi oleh anak-anak yang mendapatkan
perlakuan yang tidak sebagaimanamestinya
dari orang-orang yang seharusnya mencintai mereka..