sayangi dia

28 09 2007

sayangilah pepohonan,
bukan karena rasa kenyang setelah menyantap buahnya.
tidak juga untuk kekuatan sesudah kau makan daunnya.
terlebih atas bangku kayu yang kau duduki saat ini.

sayangilah dia,
karena ia yang bisa menghasilkan buah.
juga karena ia yang terus berdaun.
lebih lebih atas akarnya yang menyimpan air.

sayangi dia sebagaimana ia ada

Iklan




surat untukmu

24 09 2007

untukmu, yang sering kuperhatikan.

selama ini,
aku hanya bisa memandangimu dari kejauhan.
aku memandangi caramu berjalan;
menghafalkan langkahmu itu,
sehingga lain kali,
aku akan dapat lebih mudah mengenalimu dari kejauhan.

aku mengingat-ingat siapa saja kawanmu dekatmu;
mereka akan kujadikan penanda kemunculanmu,
sehingga lain kali,
aku tahu kau akan datang dari datangnya mereka.

aku memperhatikan raut wajahmu;
mencari lalu menyimpan senyummu dalam ingatanku,
sehingga lain kali,
aku dapat menghadirkan kembali dirimu dalam pikiranku.

aku mengutuhkan semua keberanian yang kupunya;
mengumpulkan dan menyatukannya,
sehingga lain kali,
aku dapat menyapa dan memulai perkataan denganmu.

selama ini,aku hanya bisa memandangimu dari kejauhan.
tapi aku mencoba untuk berbuat sesuatu,
hingga kau akhirnya memperhatikanku pula.

dariku,yang sering memperhatikanmu.

*tulisan lama yang ingin kubagi kembali





kunci pintu

24 09 2007

pintu itu,
sudahkah kubuka lagi?

sepertinya telah,
tapi,
ragu-ragu dan akhirnya kututup kembali.

engkau,
yang sedang mengetuk ketuk,
kenalkan dirimu terlebih dulu.

aku,
yang masih memegang daun pintunya,
perlu tahu engkau dahulu.
sebab,
kedalaman pengetahuan
membuatku tak lagi bimbang,
untuk dengan sadar bukakan pintu.





berjalan terus

24 09 2007

Rerumputan tak pernah merasa takut;

Tak takut,
Kalau kalau akan ditebang menjadi jerami.

Tak gentar,
Jika akan habis terpanggang matahari.

Dia tak pernah takut mati.

*hidup akan berjalan terus*

Malu aku,
Kematian selalu menjadi hantu di sampingku.
 
Padahal,
Apa beda Aku dengan Rumput?
Sama-sama anak-anak kehidupan;
Lahir,
Berkembang,
Dan akhirnya mati.

Mengapa harus takut mati?
Jika kehidupan akan berjalan terus?





tuntas sudah

23 09 2007

seperti
dedaunan yang menuntaskan kehausan di saat hari hujan,
setelah lama kemarau berkuasa.

hari ini,
itu yang kurasakan.

*kembali dari mengobrol di sore hari





satu? sudah tujuh

23 09 2007

satu,
dua,
tiga?
tidak..
telah tujuh.

tidak terasa,
sudah berganti tujuh tahun,
sejak pertama mengenal dirimu.
sudah dari pertemuan ke satu,
aku terus mendatangimu.
sampai kini,
perjumpaan ke tujuh.

dan
tetap saja,
tidak jenuh untuk mengulangnya lagi.

*hidup kembali setiap tahun dalam obrolan senja





…sebuah tetumbuhan di pinggir sungai

1 09 2007

sudah beratus ratus hari, sejak kecil,
ku tinggal di sini.
di sini, tepat di pinggir sungai ini,
kakiku telah tertancap kuat.

dulu,
bibir sungai ini,
olehku dan beberapa kerabat,
dijadikan ruang hidup.
air airnya, di pagi hari menggelitiki jari kakiku
dan di sore hari menyeka kotor di kakiku.
sebagai ganti,
kuberikan dedauan dan rerantingan
untuk dikirimkan bagi yang butuh.

dan begitulah kesehariannya..
semuanya berjalan begitu landai dan damai,
di Tangan Yang Tepat.

sampai,
satu manusia,
dua manusia,
manusia dan anakanaknya,
mulai ganti pegang kendali.

sebatang demi sebatang,
sahabatku mulai bertumbangan.
mungkin aku akan segera menyusul.

satu demi satu,
ikan ikan di dasar sungai tak lagi kelihatan,
dasarnya pun, tak lagi bisa diterawang.

detik demi detik,
air sungai semakin tinggi, saat hujan mengguyur.
ia kini seperti gelas (berdinding) yang jadi tak mampu tampung cucuran hujan.

hari kini,
tiga manusia
sedang memotong motong jariku.
aku dengar suara mereka,
namun tak tahu maknanya :
‘sulur ini harus dihabisi,
karena saat banjir,
banyak sampah tersangkut disini’

apa yang membuat mereka berpikir,
bahwa jariku ikut bersalah
dalam meluapnya air sungai ini?
apa yang membuat mereka berpikir,
dengan menghentikan jariku tumbuh,
masalah luapan pun terselesaikan?

apakah yang di pikirkan mereka?