sahabat,
maaf.
jabat tanganku
ternyata meremas hatimu.
sahabat,
maaf.
jabat tanganku
ternyata meremas hatimu.
Kaca-kaca di matamu
tampak seperti akan segera pecah,
didorong dorong dan dibentur bentur
oleh kesedihan yang tak lagi mampu tertampung di hati.
–
Kataku :
lihatlah bintang, kawan.
Karna gugusan sinarnya,
niscaya, hanya airmata gembira yang akan terurai di wajahmu.
kuputuskan,
untuk mengambil jalur lain.
mungkin kau akan sedih,
namun bukan itu jalanku.
[jika aku masih punya]
hatiku tidak ingin menuju kesana,
karena itu
lebih baik ku berpindah arah saja
dan menapak di jalur lain.
ada makna-makna yang kupahami,
ketika kulihat matamu di senja itu :
ketika kau bangun dari dudukmu,
membuka senyum,
berkata salam padaku
dan menanyakan kabarku.
Kumaknai begini :
seperti ada yang ingin kau sampaikan.
namun entah,
dinding apa yang menghalanginya.
sepertinya ada kalimat yang hendak kau katakan padaku,
tapi terhambat
dan tertahan dalam hatimu saja.
senyuman,
yang seperti kembang merekah di pagi hari dan berlapis embun,
sudahkah kutemukan?
sorot mata,
yang bagai sinaran matahari terbit menghangatkan seisi kamar,
sudahkah kutemukan?
jelaskan padaku,
bahwa kata-kata itu tak sungguh-sungguh.
ceritakan dengan jelas,
jika kata-kata itu tak seperti yang terucap.
terbenamnya matahari sore ini,
diikuti tenggelamnya asa akan dirimu.
–
beberapa kata darimu,
digabung dengan tatapan sayumu,
sudah cukup membuat patahan bagiku.
tangan ini,
yang tadinya telah bersiap,
jadi mengurungkan niat untuk menyapamu.
dan akupun tersungkur di bawah kata-katamu
pintu itu,
sudahkah kubuka lagi?
sepertinya telah,
tapi,
ragu-ragu dan akhirnya kututup kembali.
engkau,
yang sedang mengetuk ketuk,
kenalkan dirimu terlebih dulu.
aku,
yang masih memegang daun pintunya,
perlu tahu engkau dahulu.
sebab,
kedalaman pengetahuan
membuatku tak lagi bimbang,
untuk dengan sadar bukakan pintu.
komentar terbaru