aku sayang kamu
namun sayang,
rasa sayang terkadang tak bisa memandang.
sangat disayangkan,
rasa sayang adakalanya tak lihat halang rintangan.
padahal,
aku sungguh sayang kamu.
aku sayang kamu
namun sayang,
rasa sayang terkadang tak bisa memandang.
sangat disayangkan,
rasa sayang adakalanya tak lihat halang rintangan.
padahal,
aku sungguh sayang kamu.
aku pernah menyayangimu,
jika kau belum tahu itu;
seperti tanah gersang menyayangi rintikan hujan.
aku pernah membencimu,
jika kau belum tahu itu;
seperti amarah letusan pegunungan.
kau dulu begitu berarti bagiku,
jika kau belum tahu itu;
seperti anak kecil menguasai kemampuan baru.
kau dulu begitu menyesakkan bagiku,
jika kau belum tahu itu;
seperti tenggelam dan kehabisan nafas.
pakaian tebal yang menutupi Hati ini,
oh, enggan sekali kulepaskan.
ketakutan dan ketidakpercayaan,
menjadi alasan utama ketidakmauan ini.
kuputuskan,
untuk mengambil jalur lain.
mungkin kau akan sedih,
namun bukan itu jalanku.
[jika aku masih punya]
hatiku tidak ingin menuju kesana,
karena itu
lebih baik ku berpindah arah saja
dan menapak di jalur lain.
kepalaku,
layaknya meja tempat pemimpin dunia
berdebat, memaksakan ideologinya.
ia bicara tentang itu,
dia bicara tentang ini;
silih berganti,
hingga terdengar ricuh.
tubuhku,
adalah korbannya!
medan pertempuran;
babak belur sana sini,
seperti tentara terbentur bebatuan.
berdarah atas bawah,
ibarat tertembak lawan perang.
ketegangan di tiap sendi,
mirip cemas menunggu musuh datang.
aku tak butuh celotehanmu!
telingamu,
hatimu saja,
sudah cukup.
hanya dengarkanlah aku!
dengarkanlah deritaku,
pahamilah jejaring pikiranku.
mengertilah!
mulutmu,
hanya akan jadi pedang yang menusukku!
kebutuhanku akan tercukupi,
tanpa perlu kata bijakmu.
sebab, cukup hati yang mendengarkan,
jadi keperluanku.
ingin kurobek habis halaman ini,
hingga jadi serpihan!
sampai kalimat dan makna kandungannya,
tak terbaca dan terpahami lagi!
sekarang,
aku jauh sangat butuh kamu.
di saat;
di ujung tanduk seperti kini,
aku sangat jauh membutuhkanmu
apa yang kurasa malam ini,
semua yang kupikirkan di saat yang sama,
apakah sebuah kebenaran?
ataukah,
hanya sebuah benteng kokohtebal,
tempat aku bertahan dari serbuan kecemasan?
ada makna-makna yang kupahami,
ketika kulihat matamu di senja itu :
ketika kau bangun dari dudukmu,
membuka senyum,
berkata salam padaku
dan menanyakan kabarku.
Kumaknai begini :
seperti ada yang ingin kau sampaikan.
namun entah,
dinding apa yang menghalanginya.
sepertinya ada kalimat yang hendak kau katakan padaku,
tapi terhambat
dan tertahan dalam hatimu saja.
komentar terbaru